Welcome to my blog. Lewat blog ini saya mencoba untuk memberikan suatu informasi dalam sebuah bentuk pembelajaran elektronik.

Semoga informasi-informasi yang tertulis di sini dapat bermanfaat bagi kita semua. Selamat Belajar and success.


My Watch

Rabu, 09 April 2014

MENELISIK BATIK TEGALAN DALAM PERSAINGAN ERA GLOBALISASI



PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang

Batik adalah warisan budaya Indonesia yang semakin diakui keberadaannya oleh dunia, setelah diakui oleh UNESCO sebagai World Herritage“ tahun 2009. Pantaslah jika batik dijadikan sebagi warisan dunia karena batik merupakan hasil pikiran nenek moyang yang penuh dengan nilai sejarah dan budaya.
Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki batik dengan karakteristik tersendiri, seperti batik Solo, batik Pekalongan, batik Banyumas, batik Cirebon, batik Ponorogo, batik Tulungagung, batik Gresik, batik Surabaya, batik Madura, dan banyak lagi dengan nama yang berbeda-beda. Selain batik yang telah disebut, terdapat juga batik yang menjadi kebanggaan orang Tegal, yaitu batik Tegalan.
Batik Tegalan sebenarnya adalah potensi besar yang di miliki kabupaten Tegal, selain dari sektor pariwisatanya. Karena batik Tegal mempunyai daya saing yang kuat dengan batik dari lain. Motif serta corak yang terang menjadi ciri khas dari batik yang mendapat sebutan batik pesisiran ini.
Tetapi meskipun memiliki potensi yang sangat besar, batik tegalan belum begitu dikenal oleh masyarakat Tegal khususnya, serta masyarakat Indonesia umumnya. Hal ini disebabkan karena kurangnya promosi, serta kurangnya modal untuk para pengrajin batik yang sebagian besar merupakan usaha home industry. Di desa Bengle yang terkenal sebagai kota batiknya tegal, yang hampir seluruh warganya bermata pencaharian sebagai pengrajin batik hampir semuanya dalam kategori pengusaha UKM.

1.2.            Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ilmiah ini adalah :
1.2.1.           Apakah keistimewaan dari batik tegalan ?
1.2.2.           Bagaimana proses pembuatan batik tegalan ?
1.2.3.           Bagaimana pemasaran dari batik tegalan ?

1.3.             Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1.3.1.         Untuk mengetahui tentang keistimewaan dari batik tegalan.
1.3.2.         Untuk mengetahui tentang proses pembuatan batik tegalan.
1.3.3.         Untuk mengetahui tentang pemasaran dari batik tegalan.

1.4.            Manfaat Penulisan
Manfaat yang dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1.4.1.         Memberikan informasi tentang keistimewaan dari batik tegalan.
1.4.2.         Memberikan informasi tentang proses pembuatan batik tegalan.
1.4.3.         Memberikan informasi tentang pemasaran dari batik tegalan.




















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1.            Sekilas tentang Batik Tegalan
Batik atau kata batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang mempunyai arti: “menulis” dan “titik”.

2.2.            Sekilas tentang Perkembangan Batik Tegalan
Batik adalah salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Sejalan dengan perkembangan nilai sosial dan budaya bangsa Indonesia, batik tumbuh dan berkembang menjadi kekayaan nasional bernilai tinggi.
Batik tulis adalah yang pertama kali dikenal, kemudian diikuti oleh batik cap yang mulai dikenal pada akhir Perang Dunia I, sekitar 1920-an.
Batik yang semula hanya menjadi pakaian keluarga keraton di kerajaan-kerajaan Indonesia kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari pria dan wanita.
Bahan kain putih yang digunakan kala itu adalah hasil tenunan sendiri. Bahan pewarnanya juga dibuat sendiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia, antara lain dari pohon mengkudu, tinggi, soga, dan nila. Sementara bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur. Pewarna dari luar negeri baru dikenal sesudah PD I yang dijual oleh para pedagang Cina du Mojokerto, Jawa Timur. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya pewarna batik dari luar negeri.
Di sejumlah daerah di Jawa Tengah, batik pun menjamur. Salah satunya di daerah Tegal. Batik Tegal dikenal dengan nama Batik Tegalan. Di Tegal, batik dikenal pada akhir abad ke-19. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu, kemudian meningkat menjadi warna merah dan biru. Batik Tegal kala itu sudah menyebar ke luar daerah, antara lain ke Jawa Barat yang dibawa sendiri oleh pengusahanya dengan berjalan kaki. Para pedagang inilah yang mengembangkan batik Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat. Produksi batik Tegalan sendiri meliputi daerah Bengle, Langgen, Dukuhsalam, Tegalwangi, Kaladawa, dan Pasangan. Tetapi, sentral pengrajin batik tegalan berada di Bengle, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.

2.3.            Sekilas tentang Desa Bengle
Bengle merupakan sebuah desa di kecamatan Talang, yang merupakan salah satu bagian dari kabupaten Tegal, provinsi Jawa Tengah.
Desa ini terletak dekat dari pusat kecamatan Talang, jaraknya kurang lebih 1 km. Di daerah ini banyak ditemukan aliran sungai, dan sebuah waduk besar yaitu Waduk Pesayangan yang jaraknya tidak cukup jauh dari pusat desa Bengle. Daerah ini memiliki suasana alam yang panas karena daerah ini termasuk dataran rendah di kabupaten Tegal dan jarang ditemukan pepohonan.
Akses transportasi menuju desa Bengle belum cukup memadai. Karena jarang ditemukannya angkutan umum yang berlalu lintas dari dan ke desa Bengle. Hanya yang paling umum ditemukan yaitu becak, pengendara sepeda, dan pengendara motor.
Bengle lebih dikenal dengan Kota Batik. Tak heran karena para penduduk Bengle, khususnya para ibu dan remaja putri mempunyai mata pencaharian sebagai pengrajin batik. Mereka mulai belajar membatik sejak usia dini. Biasanya mereka mulai membatik pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB, tetapi tak jarang pula mereka melanjutkan pekerjaannya itu hingga larut malam. Mereka bekerja dari hari Senin-Sabtu, sedangkan hari Minggu mereka gunakan untuk istirahat.










BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1.               Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pengamatan dari data-data di internet.
3.2.               Populasi dan Sampel
a.       Populasi
Populasi adalah sekelompok subjek, baik manusia, gejala, nilai tes,benda-benda ataupun peristiwa. Populasi yang dihadapi mungkin terbatas dan mungkin pula tidak, tergantung pada rumusan masalah penelitian yang tlah ditentukan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh koresponden di Indonesia.
b.      Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi tidak mungkinnya penyelidikan atau penelitian terhadap seluruh populasi, maka penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan sebagian dari populasi yakni sebuah sampel yang dapat dipandang representative terhadap populasi tersebut.
3.3.               Waktu dan Tempat Penelitian
Dalam proses penelitian ini, penulis membutuhkan beberapa waktu. Menurut sumber proses penelitian ini dilakukan di desa Bengle, Kecamatan Talang.
3.4.               Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan bahan-bahan tambahan yang terdapat pada buku-buku referensi serta sumber dari internet.
Teknik pengumpulan data dalam karya tulis ini adalah :
a.       Studi Pustaka, yaitu suatu bentuk teknik pengumpulan data yang bersumber dari sumber tertulis, baik dari surat kabar, internet maupun buku-buku untuk dijadikan bahan penulisan.
3.5.               Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis data secara kualitatif dan kuantitatif. Yaitu :
a.       Analisis Kualitatif
Data primer yang diperoleh dari hasil wawancara secara kualitatif, sehingga diperoleh interprestasi data keadaan batik tegalan di Kabupaten Tegal.
b.      Analisis Kuantitatif
Analisis ini digunakan untuk menganalisis data primer yang telah diklasifikasikan dengan menggunakan deskripsi presentase. Data yang telah terkumpul diteliti dan dianalisis dengan menggunakan scoring terhadap instrument, menggunakan rumus :











BAB IV
PEMBAHASAN

4.1.               Keistimewaan dari Batik Tegalan
Budaya batik merupakan warisan turun menurun yang telah berusia ratusan tahun. Semula batik hanya dikenakan oleh keluarga raja maupun kalangan atas. Kini, batik sudah membudaya di  semua kalangan masyarakat. Bahkan UNESCO sendiri telah menetapkan, batik sebagai salah satu warisan milik dunia.
Seiring perjalanan waktu, motif batik menyebar. Salah satunya yaitu batik tegalan dari Kabupaten Tegal yang terkenal juga dengan sebutan batik pesisiran. Sama seperti dengan batik dari daerah lain. Terdapat beberapa jenis batik tegalan diantaranya Batik Tulis, Batik Cap/Cetak, dan Batik Printing.
Keistimewaan serta yang menjadi keunikan dari batik tegalan ini terletak pada kekayaan warnanya. Selain itu, kualitas batik itu juga dapat dilihat dari segi corak dan pewarnaan dari batik tersebut. Di tegal sendiri terdapat banyak motif batik, baik yang klasik maupun batik dengan sentuhan modern. Salah satu dari batik klasikan adalah Batik Klasikan Bangjo yang didominasi dengan warna terang seperti warna merah dan hijau banyak digunakan dalam motif. Yang termasuk dalam motif Klasikan antara lain, motif gelaran, motif ukel merak, motif cecek kawe, merakan. Ketiga nama tersebut merupakan isen-isen atau pengisi latar motif batik.
Dinamakan motif gelaran karena motif batik tersebut berbentuk seperti alas tidir yang terbuat dari bambu. Untuk motif ukel berbentuk seperti setengah bulatan elips, sedangkan motif cecek kawe berbentuk seperti ekor cicak. Selain itu juga terdapat motif merakan. Disebut motif merakan karena merak yang ada dalam gambar batik tersebut merupakn simbol dan juga harapan akan adanya keberuntungan dan kejayaan bagi pemakainya. Disamping motif Klasikan Bangjo, Tegal juga memiliki motif batik yang mirip batik Solo maupun Yogya. Motif tersebut bernama Klasikan Irengan. Klasikan Irengan merupakan pendalaman motif batik Solo-Yogya yang berkembang di daerah Tegal. Motif ini tidak mengalami perubahan semenjak dikenalkan teknik membatik saat perjalanan Amangkurat dari Pleret ke Tegal.
Yang termasuk dalam motif Klasikan Irengan antara lain, Udan Liris yaitu motif yang melambangkan kesuburan, Sawat Rama Putiyan,motif yang melambangkan kegagahan bagi pemakainya. Parang yang melambangkan kekuasaan serta kewibawaan. Sawat Candra melambangkan pemakai akan selalu mendapatkan perlindungan dalam kehidupannya. Sido Mukti, melambangkan harapan diberikannya sifat mukti atau bijaksana. Sedang Kawungmlinjo melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal-usulnya, juga melambangkan empat penjuru (pemimpin harus dapat berperan sebagai pengendali ke arah perbuatan baik). Juga melambangkan bahwa hati nurani sebagai pusat pengendali nafsu-nafsu yang ada pada diri manusia sehingga ada keseimbangan dalam perilaku kehidupan.
Selain keunikan dari segi motif dan coraknya, batik tegalan juga memiliki keunikan dalam segi pembuatannya, yang tidak dimiliki oleh batik dari daerah lain yang akan dibahas dalam proses pembuatan batik tegalan.
4.2.               Proses Pembuatan Batik Tegalan 
Proses produksi atau pembuatan kain batik batik khas Kabupaten Tegal sama seperti proses produksi kain batik di daerah lain. Perbedaannya hanya pada corak dan warna dominan saja. Bahan-bahan yang digunakan untuk membatik pada zaman dulu banyak menggunakan bahan alam jadi sifatnya alami. Bahan pewarna alami yang biasanya dipakai untuk membatik adalah kulit kayu, seperti kulit kayu soga, tingi, tegeran, dan lain-lain. Demikian pula dengan jenis kain yang digunakan juga bahan alami seperti kain mori. Masyarakat Jawa zaman dahulu belum mengenal bahan-bahan kimia untuk membuat batik. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pembuatan batik mengalami perubahan yang drastic, baik dari sisi keanekaragaman kain (seperti sintesis, katun), bahan pewarna, atau bahan-bahan lainnya.
Batik tulis yang dibuat secara manual oleh masyarakat Jawa sering kali disebut batik batik tradisional. Pembuatannya memakan waktu cukup lama antara satu hingga dua bulan untuk selembar kain batik. Proses yang sangat lama tersebut, karena segala tahap dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin, mulai dari pembuatan pola, mbironi, nyoga, hingga jadi. Tahapan-tahapan membuat batik tradisional tidak kurang dari 11 proses. Berikut langkah-langkah membuat batik tradisional khas Tegal :
·         Ngetel
Maksudnya adalah menghilangkan kotoran dan kanji pabrik yang terdapat pada kain mori yang baru. Kanji pabrik yang menempel pada kain mori menyebabkan kain menjadi kaku dan licin bila disetrika.
·         Nganji
Pada tahap ini setelah kain selesai dicuci, lalu kain dikanji tipis dengan tapioka hingga kering. Hal ini dimaksudkan untuk melicinkan dan memegang benang agar tidak bergoyang. Selain itu juga untuk mempermudah pelepasan lilin klowong dan tembokan.
Sebelum ditulis, biasanya mori dicuci terlebih dahulu dengan air hingga kanji aslinya hilang dan bersih, kemudian di kanji lagi. Motif batik harus dilapisi dengan kanji dengan ketebalan tertentu, jika terlalu tebal nantinya malam kurang baik melekatnya dan jika terlalu tipis maka akibatnya malam akan “mblobor” yang nantinya akan sulit dihilangkan. Mori dengan kualitas tertinggi tidak perlu di kanji lagi, karena ketebalan kanjinya sudah memenuhi syarat.
·         Ngemplong
Proses ini untuk menghaluskan kain yang akan digambari dengan lilin (diklowong). Beberapa lembar kain yang telah di kanji digulung erat-erat lalu dipukul-pukul sampai licin dan halus dengan pemukul kayu berserat halus. Begitu pula dengan alasnya juga terbuat dari kayu berserat halus. Proses ketiga ini tidak bisa diganti dengan cara disetrika, karena pada proses disetrika, tidak bisa melekatkan benang-benang dengan lurus.
Biasanya hanya mori yang halus yang perlu dikemplong terlebih dahulu sebelum dibatik. Mori biru untuk batik cap biasanya bisa langsung dikerjakan tanpa dilakukan pekerjaan persiapan. Tujuan dari ngemplong ialah agar mori menjadi licin dan licin. Untuk maksud ini mori ditaruh diatas sebilah kayu dan dipukul-pukul secara teratur oleh pemukul kayu pula. Mori yang dikemplong akan lebih mudah dibatik sehingga hasilnya lebih baik. Selesai diklemplong mori sudah siap untuk dikerjakan.
·         Nglowong
Pada tahap ini kain digambari dengan lilin, baik dengan menggunakan canting tangan atau menggunakan cap atau stempel manual (yang sudah agak maju). Sifat dari lilin yang digunakan dalam proses ini harus cukup kuat dan renyah supaya lilin mudah dilepaskan dengan cara dikerok. Sebab bekas gambar lilin ini nantinya akan ditempati oleh warna coklat.
Teknik pembuatan batik terdiri dari pekerjaan utama, dimulai dari pekerjaan utama, dimulai dengan nglowong ialah membatik motif-motifnya diatas mori dengan mengguanakan canting Nglowong pada sebelah kain disebut juga ngengreng dan setelah selesai dilanjutkan dengan Nerusi pada sebelah lainnya.
·         Nembok
Proses ini hampir sama dengan proses sebelumnya yakni Nglowong. Bedanya lilin yang digunakan harus lebih kuat karena lilin ini dimaksudkan untuk menahan zat warna biru (indigo) dan coklat (soga) agar tidak menembus lain.
Sebelum dicelup kedalam zat pewarna, bagian yang dikehendaki tetap berwarna putih harus ditutup dengan malam. Lapisan malam ini ibaratnya tembok untuk menahan zat pewarna agar jangan merembes kebagian yang tertutup malam. Oleh karena itu pekerjaan ini disebut menembok, jika ada perembesan karena temboknya kurang kuat maka bagian yang seharusnya putih akan tampak jalur-jalur berwarna yang akan mengurangi keindahan batik tersebut. Itulah sebabnya malam temboknya harus kuat dan ulet, lain dengan malam klowong yang justru tidak boleh terlalu ulet mudah dikerok.
·         Wedelan/Celepan/Medel.
Yaitu memberi warna biru pada kain yang telah memasuki proses Nembok dengan menggunakan indigo yang disesuaikan dengan tingkat warna yang dikehendaki. Jaman dulu pekerjaan ini memakan waktu berhari-berhari karena menggunakan bahan pewarna indigo (tom). Zat pewarna ini sangat lambat menyerap dalam kain mori sehingga harus dilakukan berulang kali, kini dengan bahan warna modern bisa dilakukan dengan cepat.
·         Ngerok
Yaitu menghilangkan lilin klowongan untuk tempat warna coklat dengan alat cawuk (terbuat dari lempengan seng yang ditajamkan ujungnya). Bagian yang akan di soga agar berwarna coklat, dikerok dengan cawuk ( semacam pisau tumpul dibuat dari seng) untuk menghilangkan malamnya.
·         Mbironi
Pekerjaan berikutnya adalah mbironi, yang terdiri dari penutupan dengan malam bagian-bagian kain yang tetap diharapkan berwarna biru, sedangkan bagian yang akan di soga tetap terbuka. Pekerjaan mbironi ini dikerjakan didua sisi kain.
Pada tahapan ini kain yang telah selesai dikerok pada bagian-bagian yang diinginkan tetap berwarna biru dan putih (cecekan/titik-titik) perlu ditutup lilin dengan menggunakan canting tulis. Maksudnya agar bagian tersebut tidak kemasukan warna lain apabila disoga.
·         Nyoga
Kain yang telah selesai dibironi lalu diberi warna coklat (disoga) dengan ekstrak pewarna yang terbuat dari kulit kayu soga, tingi, tegeran, atau lainnya. Kain tersebut dicelup dalam bak pewarna hingga basah seluruhnya. Setelah itu kain dikeringkan. Proses ini diulang-ulang sampai mendapatkan warna coklat yang diinginkan.
Menyoga merupakan proses yang banyak memakan waktu, karena mencelupkan kedalam soga. Jika menggunakan soga alam, tidak cukup hanya satu dua kali saja, harus berulang. Tiap kali pencelupan harus dikeringkan diudara terbuka. Dengan menggunakan soga sintesis maka proses ini bisa diperpendek hanya setengah jam saja. Istilah menyoga diambil dari kata pohon tertentu yang kulit pohonnya menghasilkan warna soga (coklat) bila direndam dalam air.
·         Ngareni
Proses Ngareni, kain yang telah berwarna coklat kemudian difiksir/disareni dengan larutan air kapur. Kain dicelupkan dalam bak air kapur hingga seluruhnya basah. Setelah ditiris, kain dicelup lagi dalam air ekstrak kayu tegeran, kembangsan, dan lain-lain. Pada proses ini untuk membersihkan seluruh lilin yang masih ada di kain dengan cara dimasak dalam air mendidih, ditambah air tapioka encer agar tidak melekat kembali ke kain.
·         Mbabar/Nglorot
Setelah mendapat warna yang dikehendaki, maka kain harus mengalami proses pengerjaan lagi yaitu malam yang masih ketinggalan di mori harus dihilangkan, caranya dengan dimasukkan ke dalam air mendidih yang disebut nglorot.
4.3.               Pemasaran Batik Tegalan
Meskipun batik tegalan tidak kalah dengan batik dari daerah lain dalam segi motif dan corak, namun dalam hal promosi dan pemasaran, batik tegalan sangat tidak maksimal dibandingkan dengan daerah lain seperti Pekalongan dan Solo yang sudah terkenal sampai ke mancanegara. Hal ini disebabkan karena kurangnya media promosi untuk memperkenalkan batik tegalan.
Hal ini terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh penulis terhadap 30 koresponden dari seluruh Indonesia, yang menunjukkan sebagian besar dari koresponden yang diambil datanya melalui kuisioner tidak mengetahui tentang batik tegalan. Bahkan orang tegal sendiri juga tidak tahu kalau tegal memiliki batik.
Meskipun sebenarnya sudah banyak upaya yang dilakukan pemerintah Kabupaten Tegal untuk memperkenalkan batik tegalan. Upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah yaitu :
1.      Penggunaan Wajib Batik bagi PNS
Pemerintah kabupaten Tegal telah mewajibkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk memakai batik setiap hari Kamis sejak 2003. Hal ini bertujuan agar penjualan batik tegalan meningkat di lingkup kabupaten Tegal.
2.      Pameran Batik Tegalan
Dalam pameran ini, pemerintah mengikutsertakan designer-designer untuk membuat baju dari batik tegalan yang akan dikenakan oleh para model dalam acara Fashion Show. Selain Fashion Show, dalam pameran ini, pemerintah juga memperkenalkan motif-motif batik tegalan yang beraneka ragam yang didominasi warna terang. Promosi ini sudah dilakukan pemerintah Kabupaten Tegal di 10 provinsi di Indonesia.
3.      Penggunaan Batik di Event Penting
Selain hari kamis, penggunaan batik tegalan juga diwajibkan saat-saat program pariwisata serta dalam acara-acara penting. Seperti upacara-upacara peringatan hari-hari nasional.
4.      Pembentukan DEKRANASDA
Dekranasda adalah suatu wadah yang disediakan pemerintah untuk para pengrajin batik dalam hal pendistribusian. Pemerintah akan membantu pendistribusian batik dari para pengrajin yang sulit mencari calon pembeli. Pembentukan  Dekranasda sangat berguna bagi para pengrajin batik, khususnya pengrajin dalam kategori UKM.
Dari upaya-upaya yang dilakukan pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah telah serius dalam upaya memasarkan batik tegalan. Meskipun begitu, banyak pula kendala yang dialami oleh pengrajin, penjual serta pemerintah untuk memperkenalkan natik tegalan jauh lagi. Kendala itu meliputi :
1.      Produksi Batik Tegalan
Melemahnya proses bati tegalan merupakan salah satu kendala yang dialami perajin batik. Hal ini disebabkan karena kurangnya antusias dari generasi muda untuk menjadi pengrajin batik. Desa bengle yang hampir semua keluarga sebagai pengrajin batik dilakukan oleh ibu-ibu serta perempuan muda yang sudah memiliki anak. Sedangkan remaja putri lebih banyak merantau ke Jakarta bekerja di Warteg yang memiliki penghasilan yang tetap. Sedangkan remaja putra juga sedikit yang bekerja sebagai pengrajin batik. Kebanyakan dari mereka bekerja di ibukota mengharapkan pekerjaan yang lebih baik. Hal ini bisa berakibat kurang antusias generasi muda untuk melestarikan batik tegalan yang sekaligus juga memperkecil proses produksi.
2.      Kurangnya Modal
Kendala utama yang dialami pengrajin batik yaitu masalah modal. Banyak dari mereka yang mengeluhkan akan biaya produksi yang tidak sebanding dengan biaya penjualan. Serta kurangnya perhatian dari pemerintah untuk pengrajin dalam hal permodalan. Pengrajin batik di desa Bengle sendiri lebih banyak bekerja di bawah seorang tengkulak. Mereka mendapatkan kain mori serta bahan lain dari tengkulak. Kemudian mereka mengerjakan proses membatik. Setiap bulan mereka menyetor hasil mereka kepada tengkulak dengan system bagi dua. Setiap pengrajin di desa bengle dapat memproduksi sebanyak 10 batik tulis perbulan.
Meskipun pemerintah telah memberikan modal, namun modal itu dianggap terlalu kecil. Junlah modal UKM yang telah diberikan pemerintah untuk pengrajin tidak sebanding dengan jumlah pengrajin. Sehingga hal ini juga menyebabkan kurang proses produksi batik tegalan.
3.      Kurangnya Kepedulian Remaja
Remaja yang merupakan generasi penerus cenderung untuk tidak memakai batik, khususnya remaja Kabupaten Tegal yang enggan memakai batik tegalan. Hal ini disebabkan karena alas an remaja yang dianggap kuno jika memakai batik. Padahal pemerintah sudah menvariasikan batik sesuai mode remaja saat ini. Sehingga penyuluhan tentang batik tegalan terhadap remaja sangatlah dibutuhkan untuk menumbuhkan rasa cinta memakai serta memiliki batik tegalan yang saat ini terancam kehilangan generasi.
Itulah yang menjadi kendala pemerintah untuk mempromosikan batik tegalan ke masyarakat umum.

















BAB V
PENUTUP

  5.1            Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah penulis paparkan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Batik Tegalan mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh batik dari daerah lain.
2.      Batik Tegalan dalam proses pembuatannya mempunyai keunikan disbanding batik lain, yaitu adanya proses Ngetel, Nganji, Ngemplong, Nembok, Wedelan/Celepan/Medel, Ngerok, Mbironi, Nyoga, Ngareni, dan Mbabar/Nglorot.
3.      Pemasaran Batik Tegalan dikendalai karena promosi serta pendistribusian yang kurang maksimal.
  5.2            Saran
Adapun saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut :
1.      Warga Tegal harus lebih mengenal batik Tegalan.
2.      Pemerintah lebih peduli lagi terhadap pengrajin batik Tegalan.
Harga jual dari batik Tegalan harus sesuai dengan modal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar